Perilaku Masyarakat Baduy dalam Mengelola Hutan dan Lahan

Telah diterbitkan pada Jurnal Humaniora Vol. 23 No. 1 Feb 2011

Perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal dari masa lalu, saat ini, dan masa yang akan datang.  Faktor internal yang mempengaruhi perilaku adalah latar belakang pengalaman individu, motivasi, status kepribadian, dan sebagainya; sedangkan faktor eksternalnya adalah lingkungan di sekitarnya.  Perilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek atau stimulus yang dihadapinya, berkaitan erat dengan kepercayaan dan perasaannya terhadap obyek tersebut.  Dalam teori perilaku terencana, faktor yang mempengaruhi perilaku adalah keyakinan akan sesuatu hal, norma-norma subyektif, dan kontrol perilaku yang dihayati (Azwar, 2010).

Masyarakat Baduy adalah kelompok masyarakat Sunda yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten (Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak, 2001).  Sebutan lain untuk masyarakat Baduy adalah urang rawayan atau urang kanekes.  Masyarakat Baduy ini merupakan salah satu suku yang hidupnya masih terasing atau mengasingkan diri dari keramaian dan tidak mau tersentuh oleh kegiatan pembangunan.  Di perkampungan Baduy tidak ada listrik, tidak ada pengerasan jalan, tidak ada fasilitas pendidikan formal, tidak ada fasilitas kesehatan, tidak ada sarana transportasi, dan kondisi pemukiman penduduknya sangat sederhana.  Aturan adat melarang warganya untuk menerima modernisasi pembangunan. Untuk mencapai ke lokasi pemukiman, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak tanpa pengerasan.  Masyarakat Baduy menempati wilayah seluas 5.101,8 hektar berupa hak ulayat yang diberikan oleh pemerintah. Hak Ulayat adalah kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidup para warganya untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tanah, dalam wilayah tersebut, bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya, yang timbul dari hubungan secara lahiriah dan batiniah turun temurun dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan.

Pola kehidupan masyarakat Baduy sangat ditentukan oleh aturan  dan norma-norma  yang berperanan penting dalam proses kehidupan sosial mereka.  Aturan dan norma-norma yang berlaku membentuk homogenitas perilaku masyarakatnya.  Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2005), perilaku diartikan sebagai tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan.  Azwar (2010) menjelaskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi terhadap stimulus lingkungan sosial.  Perilaku merupakan fungsi dari karakteristik individu dan lingkungannya.  Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain yang berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan.

Aturan dan norma itu dijabarkan dalam suatu hukum adat, yang berperan sebagai alat pengayom bagi seluruh warga sehingga mampu menggiring semua warganya kepada tertib hukum, untuk mampu mematuhi hak dan kewajibannya.  Homogenitas perilaku dan sosial masyarakat Baduy dapat dilihat dari kesamaan tempat tinggal, kepercayaan, mata pencaharian, pakaian, dan kehidupannya sehari-hari dalam menyikapi alam lingkungan dan masyarakat luar (Senoaji, 2003).

Masyarakat Baduy sangat patuh terhadap norma dan aturan adat dalam menjalani kehidupannya.  Aturan adat dan norma tersebut warisan masa lalu yang dipercaya dapat memberikan kebaikan jika dilaksanakan dengan baik.  Aturan adat dan norma ini mengatur semua hal dalam kehidupannya  mulai dari aturan mengelola lahan pertanian, aturan hidup bermasyarakat, dan aturan memanfaatkan sumber daya hutan dan lingkungan.  Kepatuhan terhadap aturan adat menciptakan perilaku yang baik terhadap alamnya dan merupakan kearifan lokal masyarakat dalam mengelola lingkungannya. Perilaku masyarakat Baduy diimplementasikan dalam berbagai kegiatan, seperti  pengelolaa lahan pertanian, pengelolaan hutan dan perhatian pada lingkungan sekelilingnya.

Masyarakat Baduy berpendapat bahwa dirinya diciptakan untuk menjaga tanah larangan yang merupakan pusatnya bumi. Mereka dituntut untuk menyelamatkan hutan tutupannya dengan menerapkan pola hidup seadanya yang diatur oleh norma adat.  Oleh karena itu, kegiatan utama masyarakat Baduy, pada hakekatnya terdiri dari pengelolaan lahan untuk kegiatan pertanian (ngahuma) dan pengelolaan serta pemeliharaan hutan untuk perlindungan lingkungan.  Tata guna lahan di Baduy dapat dibedakan menjadi : lahan pemukiman, pertanian, dan hutan tetap.  Lahan pertanian adalah lahan yang digunakan untuk berladang dan berkebun, serta lahan-lahan yang diberakan.  Hutan tetap adalah hutan-hutan yang dilindungi oleh adat, seperti hutan lindung (leuweung kolot/titipan), dan hutan lindungan kampung (hutan lindungan lembur) yang terletak di sekitar mata air atau gunung yang dikeramatkan.  Hutan tetap ini merupakan hutan yang selalu akan dipertahankan keberadaannya.

Pekerjaan wajib yang harus dilakukan oleh seluruh masayarakat Baduy adalah ngahuma (bertanam padi lahan kering).  Pekerjaan ini bukan hanya sekedar mata pencaharian, tetapi juga merupakan ibadah yang merupakan salah satu rukun Baduy.  Oleh karena itu kegiatan sehari-hari masyarakat Baduy adalah mengangani setiap ladangnya. Waktu libur ke ladang hanya pada hari Jumat dan Minggu, yang biasanya digunakan untuk kegiatan social di setiap kampungnya.  Kegiatan berladang ini dianggap kegiatan yang suci, karena mengawinkan dewi padi atau Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Kegiatan berladangnya akan selalu diikuti dengan upacara-upacara keagamaan yang dipimpin oleh ketua adat.  Beberapa larangan dalam proses kegiatan berladang bagi masyarakat Baduy diantaranya adalah :  (1) tanah tidak boleh dibalik, maksudnya dalam kegiatan penanaman dilarang mencangkul, tetapi cukup dinunggal; (2) dilarang menggunakan pupuk dan oabat-obat kimia;  (3) Dilarang membuka ladang di leuweng titipan (hutan tua) atau leuweng lindungan lembur (hutan kampung); (4) waktu pengerjaan harus sesuai ketentuan, tidak saling mendahului.  Ketentuan dan tata cara berladang sifatnya mutlak, ditentukan secara musyawarah oleh ketua adat di Baduy-Dalam berdasarkan pikukuh karuhun serta berlaku untuk semua warga Baduy.

Kawasan hutan tetap dalam masyarakat Baduy adalah wilayah yang telah ditetapkan dan dilindungi oleh adat.  Batas-batas kawasan hutan tetap selalu diingatkan kepada seluruh masyarakat Baduy dan selalu dikontrol setiap tiga bulan sekali.  Kawasan hutan ini tidak boleh dialihfungsikan untuk tujuan lain selain perlindungan lingkungan.  Kawasan hutan tetap terdiri dari leuweung titipan, yakni kawasan hutan primer yang telah ditetapkan secara turun temurun yang letaknya di sebelah Selatan wilayah Baduy; dan leuweung lindungan lembur, yakni kawasan hutan di sekitar mata air atau pada bukit-bukit yang dikeramatkan.  Fungsi utama hutan lindungan lembur ini adalah  untuk perlindungan terhadap sumber mata air di sekitar perlampungan.  Luas hutan lindungan lembur ini bervariasi mulai dari 1 – 5 hektar, dan letaknya menyebar di perkampungan masyarakat Baduy.  Beberapa nama hutan lindungan lembur diantaranya adalah :  Hutan Hulu Maung, Gunung Baduy, Ciduku, Hutan Hulu Ciboleger,  Hutan Kiara Koneng, Leuweung Legok,  dan  Hutan Cigaru.  Masyarakat Baduy secara bersama-sama selalu menjaga dan mempertahankan kawasan hutan tetapnya dari gangguan pihak luar.

Berdasarkan perbadingan luas lahan garapan dengan jumlah kepala keluarga, telah terjadi kekurangan lahan garapan di Baduy.  Apakah Masyarakat Baduy merambah hutan untuk mengatasi kekurangan lahan tersebut ?  Menurut Jaro Cikeusik membuka hutan untuk kegiatan perladangan adalah merupakan pelanggaran adat yang besar, dan selama ini belum pernah ada kejadian masyarakat Baduy merambah hutan. Untuk mengatasi kekurangan lahan pertaniannya, masyarakat Baduy memperpendek masa bera lahannya. Putranto (1988) menjelaskan bahwa masa bera masyarakat Baduy awalnya adalah sekitar 7 – 11 tahun,  sekarang ini hanya 5 tahun dan ada yang 3 tahun. Akibat dari memperpendek masa bera lahan ini adalah menurunnya produksi hasil pertaniannya.  Beberapa warga Baduy-Dalam bahkan mulai ngahuma pada ladangnya selama dua tahun.

Cara lain yang dipakai oleh Masyarakat Baduy-Luar untuk mengatasi kekurangan lahan ini adalah mencari lahan garapan di luar wilayah Baduy, baik dengan membeli, sistem sewa ataupun bagi hasil.  Untuk menambah pendapatannya, pada lahan mereka di luar Baduy, ditanami beberapa jenis tanaman ekonomis seperti cengkeh, kopi, kakao, dan karet.  Dalam lima belas tahun terakhir ini, masyarakat Baduy-Luar diperbolehkan menanam tanaman kayu di ladangnya.  Jenis tanaman kayu yang ditanam masyarakat Baduy-Luar di ladangnya diantaranya adalah sengon, mahoni, kayu afrika, sungkai, aren, dan mindi.  Tanaman kayu tersebut akan ditebang pada saat akhir masa bera.  Kayu hasil penebangannya ada yang dipakai sendiri dan ada pula yang sebagian dijual ke masyarakat luar.  Dari sisi konservasi, penanaman jenis-jenis tanaman kayu selama menunggu masa bera dapat meningkatkan kesuburan tanah dan sekaligus melindungi tanah dan lahannya dari erosi; sedangkan dari segi ekonomi akan meningkatkan pendapatan petani dan sekaligus mengatasi masalah kekurangan kayu.  Saat ini, seluruh lahan yang dikelola oleh masyarakat Baduy-Luar ditanami tanaman kayu yang penanamannya dilakukan bersamaan pada saat menanam padi.

Daerah leuweung lindungan lembur, leuweung kolot, hutan di sekitar mata air, dan hutan tempat hulunya sungai  tidak pernah dibuka menjadi ladang, bahkan sebagian ditetapkan sebagai tempat yang keramat.  Bagi orang Baduy, mempunyai banyak pohon  tanaman keras adalah merupakan suatu kebanggaan.  Ketentuan adat menuntut kepada masyarakatnya untuk memiliki pohon sebanyak-banyaknya.  Masyarakat yang banyak memiliki pohon dan rumpun bambu dianggap hidupnya sudah mapan, bahkan seorang laki-laki yang akan menikah dilihat kemapanan hidupnya dari lahan garapan, rumah, dan jumlah pohon atau rumpun bambu yang dimiliki.  Karena itu budaya menanam pohon dan bambu seakan menjadi keharusan bagi masyarakat Baduy.  Pohon yang ditanam adalah pohon-pohon yang diambil buahnya, seperti durian, duku, langsat, manggis, petai, picung, rambutan, mangga, dan kelapa.  Pohon yang ditanam menjadi milik si penanam dan akan diwariskan kepada anaknya.  Menebang pohon di hutan tua atau hutan kampung merupakan suatu larangan.  Kebutuhan kayu pertukangan hanya boleh diambil dari hutan skunder yang akan dijadikan ladang, atau membeli dari masyarakat luar. Kesadaran masyarakat Baduy untuk menanam pohon dan bambu sangat tinggi.  Pohon akan menghasilkan buah yang bisa menambah pendapatan,  sedangkan bambu merupakan bahan baku utama rumah dan gubung ladang.  Fenomena itu akan terlihat begitu memasuki pemukiman masyarakat Baduy.   Pemukimannya selalu dikelilingi oleh hutan kampung dengan berbagai jenis pohon buah-buahan; sedangkan di tepi sungai kampung dan di sekitar mata air serta selokannya banyak terdapat deretan rumpun bambu dan tumbuhan kirai (bahan atap rumah).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s