Masyarakat Baduy, Hutan, dan Lingkungan

Telah terbit di Jurnal Manusia dan Lingkungan, Edisi Juli 2010

Hutan dan lingkungannya merupakan sumberdaya alam yang dikaruniakan Tuhan kepada umat-Nya dengan fungsi utama untuk penyeimbang ekosistem bumi bagi perlindungan lingkungan.  Namun demikian selain berfungsi perlindungan lingkungan, hutan juga dapat berfungsi sebagai penyedia manfaat barang yang dibutuhkan manusia seperti  : kayu bakar, kayu pertukangan, pangan, ternak, air, dan satwa liar. Kedua fungsi hutan itu bisa saling bertentangan satu sama lainnya. Pemanfaatan fungsi ekonomi yang berlebihan akan menyebabkan rusaknya fungsi lingkungan, sebaliknya pemanfaatan fungsi lingkungan yang terlalu ekstrim seperti larangan memasuki dan memanfaatkan kawasan hutan akan menimbulkan mubadzir hutan.   Oleh karena itu perlu diupayakan suatu pengelolaan hutan yang dapat memberikan keseimbangan pemanfaatan fungsi lingkungan dan fungsi ekonomi.

Pada suatu tempat di Pedalaman Banten, terdapat sekelompok masyarakat yang mampu mengelola hutan dan lingkungannya dengan baik.  Kelompok masyarakat ini dikenal dengan sebutan Urang Baduy.  Masyarakat Baduy adalah masyarakat yang hidupnya sangat tergantung pada keberadaan hutan dan lingkungannya. Lingkungan hidup mereka adalah hutan yang pengelolaannya diatur secara bijaksana untuk perlindungan lingkungan dan  untuk penyedia kebutuhan pangan dan ekonomi.  Kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada bagaimana mereka memanfaatkan hutannya. Keberhasilan pengelolaan hutan dan lingkungan yang lestari oleh masyarakat Baduy, telah diakui oleh banyak pihak, terutama pihak-pihak yang berkompeten dalam pengelolaan lingkungan.  Atas keberhasilan masyarakat Baduy ini dalam mengelola hutan dan lingkungannya, suatu lembaga nasional yang bergerak di bidang lingkungan, yakni Yayasan Kehati Indonesia, terpanggil untuk memberikan penghargaan “Kehati Award tahun 2004 ” kepada komunitas masyarakat sebagai kelompok masyarakat yang mampu mengelola lingkungan dengan baik dan pada tahun yang sama juga mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah.

Wilayah ulayat Masyarakat Baduy memiliki luas sekitar 5.101,8 hektar,  terletak  di sebelah Barat Pulau Jawa, di sekitar Pegunungan Kendeng.  Secara administrasi pemerintahan, wilayah ini dikukuhkan menjadi  Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten.   Sebagai suatu desa, wilayah Baduy atau Desa Kanekes terdiri atas beberapa Kampung yang terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni Baduy-Dalam dan Baduy-Luar.  Pengembangan kampung ini hanya terjadi di pemukiman Baduy Luar, sedangkan di Baduy Dalam jumlah kampungnya tetap tidak berubah sepanjang masa, yakni hanya tiga kampung.  Jumlah kampung di Baduy pada tahun 2009 sebanyak 58 kampung, 3 kampung di Baduy Dalam dan 55 kampung di Baduy Luar.

Kekuatan hukum status wilayah Baduy ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 32 tahun 2001 tentang Perlindungan atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy.  Hak ulayat ini merupakan kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidup para warganya untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tamah dalam wilayah tersebut bagi kelangsungan hidup dan kehidupan yang timbul dari hubungan secara lahiriah dan batiniah turun temurun dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan.

Jumlah penduduk Baduy di wilayah Desa Kanekes sampai dengan bulan Juni 2009 adalah 11.172 jiwa terdiri dari 2.948 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 58 kampung.  Data kependudukan tentang orang Baduy pertama kali tercatat pada tahun 1888 dengan jumlah 1.476 jiwa.  Wilayahnya terbentang mulai dari Leuwidamar, Cisimeut, sampai ke Pantai Selatan.  Pada permulaan abad ke-20 sejalan dengan pembukaan perkebunan karet oleh Hindia Belanda, tampaknya secara tegas diadakan pengukuran dan penataan tanah.  Untuk keperluan itu diadakan kesepakatan antara Sultan Banten dengan Orang Baduy mengenai batas Desa Kanekes yang diambil oleh Pemerintah Hindia Belanda.  Luas wilayah Desa Kanekes menjadi lebih kecil. Pada tahun 1984, Perum Perhutani melakukan tata batas untuk wilayah Baduy, yang dikenal dengan sebutan Hutan Baduy.

Struktur masyarakat Baduy dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu masyarakat Baduy Dalam dan Masyarakat Baduy Luar.  Wilayah Baduy Dalam memiliki luas 1.975 hektar  dengan jumlah penduduk 1.083 orang (281 KK) yang tersebar di tiga kampung; sedangkan wilayah Baduy Luar luasnya 3.127 hektar dengan jumlah penduduk 10.089 (2.667 KK).  Mata pencaharian utama masyarakat Baduy adalah berladang padi tanah kering. Sistem perladangannya adalah berladang berpindah dengan masa bera (mengistirahatkan lahan) pada saat ini  selama 5 tahun.  Mata pencaharian sampingan saat menunggu waktu panen atau waktu luang adalah membuat kerajinan tangan dari bambu (asepan, boboko, nyiru, dll),  membuat koja (tas dari kulit kayu), masuk ke dalam hutan mencari rotan, pete, ranji, buah-buahan dan madu, berburu, membuat atap dari daun kirai, membuat alat pertanian seperti golok dan kored.

Masyarakat Baduy tidak mengenal sistem pendidikan atau sekolah formal.  Adat melarang warganya untuk bersekolah.  Mereka berpendapat bila orang Baduy bersekolah akan bertambah pintar, dan orang pintar hanya akan merusak alam sehingga akan merubah semua aturan yang telah ditetapkan oleh karuhun.  Walaupun tidak berpendidikan formal, masyarakat Baduy ada yang mengenal baca tulis dan berhitung.  Mereka belajar dari orang luar yang datang ke lingkungannya.  Beberapa anak-anak Baduy telah dapat menulis namanya sendiri dengan bahasa latin, yang mereka tulis dengan arang pada kayu-kayu di rumahnya.  Dalam hal hitung menghitung, mereka sudah paham terutama dalam hal perhitungan uang untuk jual beli.  Pendidikan yang diperoleh oleh masyarakat Baduy lebih banyak dilakukan melalui ujaran-ujaran yang disampaikan oleh orang tuanya, terutama tentang buyut karuhun (larangan leluhur) tentang bagaimana memanfaatkan alam lingkungannya.

Kepercayaan orang Baduy disebut agama sunda wiwitan,  yaitu percaya serta yakin adanya  satu kuasa, yakni Batara Tunggal, yang tidak bisa dilihat dengan mata tetapi bisa diraba dengan hati, maha segala tahu yang bergerak dan berusik di dunia ini.  Sebutan lain bagi batara tunggal adalah Nungersakeun (Yang Maha Menghendaki), dan Sang Hiyang Keresa (Yang menghendaki).  Masyarakat Baduy juga mengenal kalimat syahadat seperti halnya orang Islam, mereka juga disunat, percaya adanya hidup, mati, sakit, dan nasib, yang semua itu berada pada kekuasaan Sang Hyang Batara Tunggal.  Dalam masalah kematian orang Baduy berpendapat bahwa apabila manusia telah sampai pada ajalnya, ruhnya akan kembali kepada Sang Pencipta yakni Batara Tunggal.  Dalam keyakinannya merekapun mempunyai nabi yaitu Nabi Adam. Di samping adanya kepercayaan kepada Batara Tunggal, masyarakat Baduy juga mempercayai bahwa untuk mengayomi dan menjaga terhadap ciptaan Batara Tunggal itu ada pula kekuatan gaib dari roh nenek moyang mereka yang disebut karuhun/leluhur.

Kegiatan utama masyarakat Baduy, pada hakekatnya terdiri dari pengelolaan lahan untuk kegiatan pertanian (ngahuma) dan pengelolaan serta pemeliharaan hutan untuk perlindungan lingkungan.  Oleh karena itu tata guna lahan di Baduy dapat dibedakan menjadi : lahan pemukiman, pertanian, dan hutan tetap.  Lahan pertanian adalah lahan yang digunakan untuk berladang dan berkebun, serta lahan-lahan yang diberakan.  Hutan tetap adalah hutan-hutan yang dilindungi oleh adat, seperti hutan lindung (leuweung kolot/titipan), dan hutan lindungan kampung (hutan lindungan lembur) yang terletak di sekitar mata air atau gunung yang dikeramatkan, seperti hutan yang terletak di Gunung Baduy, Jatake, Cikadu, Bulangit, dan Pagelaran.  Hutan tetap ini merupakan hutan yang selalu akan dipertahankan keberadaannya.

Masyarakat Baduy dalam “peri kehidupannya”  selalu berpedoman kepada buyut (aturan) yang telah ditentukan dalam bentuk pikukuh karuhun.  Aturan utamanya adalah konsistensi terhadap penataan ruang yang telah menjadi aturan, yakni kawasan hutan untuk perlindungan lingkungan dan kawasan budidaya untuk lahan pertanian dan atau pemukiman.  Seseorang tidak berhak dan tidak berkuasa untuk melanggar dan mengubah tatanan kehidupan yang telah ada dan sudah berlaku turun menurun.  Kedudukan para pimpinan adat memiliki peranan dan kekuasaan luas terhadap keseluruhan sistem sosial budayanya.  Wewenang dan kedudukan itu sudah ditentukan oleh karuhun dengan maksud untuk menyelamatkan taneuh titipan (wilayah baduy) yang merupakan intinya jagat.  Jika taneuh titipan ini hancur dan rusak, maka seluruh kehidupan di dunia akan rusak pula. Adanya aturan seperti ini menjadikan hutan di lingkungan di Baduy tetap terjaga, lestari, dan utuh sampai saat ini.

Beberapa aturan adat yang mengatur hubungan masyarakat dengan lingkungan di antaranya adalah :

(1)         Dilarang merubah jalan air, misalnya membuat kolam ikan,  drainase, dan membuat irigasi atau bendungan.

(2)         Dilarang masuk hutan larangan (leuweung kolot) untuk menebang pohon atau berladang

(3)         Dilarang menebang sembarangan jenis pohon-pohonan.

(4)         Dilarang menggunakan teknologi kimia, misalnya menggunakan pupuk, obat pemberantas hama penyakit, menggunakan minyak tanah, mandi menggunakan sabun, menggosok gigi menggunakan pasta, dan menuba ikan.

(5)         Dilarang memelihara binatang ternak kaki empat, seperti kambing, sapi, atau kerbau.

(6)         Berladang harus sesuai dengan ketentuan adat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s