“Ngeunteung” ka Nagara Baduy

Negeri penuh bencana alam

Saat ini, bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kekeringan, serangan hama penyakit tanaman dan lain sebagainya seakan telah menjadi sahabat bangsa ini setiap tahunnya. Alam yang ramah dengan untaian mutu manikam di garis Khatulistiwa seakan tinggal kenangan dan cerita masa lalu bangsa ini. Dari mana dan kapan bencana alam ini dimulai ? Obrol-obrolan “orang tua” mengatakan bencana alam ini mulai marak pada tahun “sembilan puluhan” dan terus berlanjut sampai sekarang ini. Alam sudah tidak bersahabat lagi dengan penghuninya.

Tahun “sembilan puluhan”, dalam dunia kehutanan, merupakan perayaan ulang tahun keduapuluhan pembabatan hutan di Indonesia. Forest Watch Indonesia (2004) melaporkan laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 2 juta hektar per tahun atau sekitar 4 hektar hutan ini rusak setiap menitnya. Dengan hitungan matematik, saat ini sudah sekitar 60-an juta hektar hutan Indonesia yang rusak, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan sebagian Papua. Kerusakan hutan ini diakibatkan karena pemberian ijin ekploitasi hutan, illegal logging, perambahan oleh masyarakat, dan alif fungsi hutan untuk tujuan lain seperti pertambangan, perkebunan, pemukiman, transmigrasi, dan sebagainya. Wajar saja, bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, silih berganti datang setiap saat, menyebar di seluruh Nusantara ini.

Hutan merupakan sumberdaya alam yang berfungsi mengatur tata air dan penyeimbang ekosistem bumi. Ekosistem hutan diibaratkan sebagai “busa raksasa” yang bisa menyerap air pada saat air melimpah (musim hujan) dan melepaskan air pada saat airnya sedikit (musim kemarau). Rusaknya hutan di negeri ini, telah mengganggu mekanisme “busa raksasa”, sehingga bencana banjir dan tanah longsor akan selalu hadir pada musim penghujan, dan kekeringan serta kekurangan air bersih akan muncul pada musim kemarau. Prof. Hasanu Simon, seorang Begawan Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada, mengutarakan bahwa hilangnya hutan di bumi ini menimbulkan “energi liar” dari sinar matahari yang semestinya diserap oleh vegetasi hutan. Energi liar tersebut diserap oleh bumi, dipantulkan di udara bebas, hasilnya bumi bergetar timbul-lah bencana gempa bumi, badai, angin puting beliung lokal dan sebagainya.

Bagaimana masyarakat Baduy mengelola hutan dan lingkungannya ?

Masyarakat Sunda Baduy merupakan sebutan yang diberikan bagi masyarakat Sunda yang hidupnya mengasingkan diri dari keramaian di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Sebutan lainnya adalah orang Rawayan atau orang Kanekes. Pemerintah memberi hak ulayat kepada masyarakat Baduy untuk mengolah lahan dan lingkungannya seluas 5.101,8 hektar sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 13 tahun 1990, dan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 32 tahun 2001 tentang Perlindungan atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy. Bagi masyarakat Baduy, pemberian hak ulayat ini seperti pengakuan yang diberikan oleh Kerajaan Banten pada masa lampau, dimana mereka berhak mengatur tatanan hidupnya dalam segala hal dan setiap satu tahun sekali memberi upeti pada penguasa. Masyarakat Baduy mempunyai struktur tatanan hukum adat yang tunduk dan patuh kepada tiga puun sebagai satu kesatuan (trias politica), sebagai pimpinan tertinggi pemerintahan adat yang berada di Kampung Cikeusik, Kampung Cibeo, dan Kampung Cikartawana. Sistem struktur hukum adat di perkampungan masyarakat Baduy memegang peranan penting dalam mengayomi semua lapisan warganya baik dalam bidang kemasyarakatan ataupun dalam mengelola lingkungan alamnya.

Jumlah penduduk Baduy di wilayah Desa Kanekes sampai dengan bulan Juni 2009 adalah 11.172 jiwa terdiri dari 2.948 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 58 kampung. Struktur masyarakat Baduy dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu masyarakat Baduy-Dalam (Baduy Tangtu) dan Masyarakat Baduy-Luar (Baduy Panamping). Wilayah Baduy-Dalam memiliki luas 1.975 hektar dengan jumlah penduduk 1.083 orang (281 KK) yang tersebar di tiga kampung; sedangkan wilayah Baduy-Luar luasnya 3.127 hektar dengan jumlah penduduk 10.089 (2.667 KK) tersebar di 55 kampung. Masyarakat Baduy tidak mengenal sistem pendidikan atau sekolah formal. Adat melarang warganya untuk bersekolah. Mereka berpendapat bila orang Baduy bersekolah akan bertambah pintar, dan orang pintar hanya akan merusak alam sehingga akan merubah semua aturan yang telah ditetapkan. Pendidikan yang diperoleh oleh masyarakat Baduy lebih banyak dilakukan melalui ujaran-ujaran yang disampaikan oleh orang tuanya, terutama tentang buyut karuhun (larangan leluhur) tentang bagaimana memanfaatkan alam lingkungannya. Mata pencaharian utama masyarakat Baduy adalah berladang padi tanah kering. Sistim perladangannya adalah berladang berpindah dengan masa bera (mengistirahatkan lahan), pada saat ini, selama 5 tahun. Mata pencaharian sampingan saat menunggu waktu panen atau waktu luang adalah membuat kerajinan tangan dari bambu (asepan, boboko, nyiru, dll), membuat koja (tas dari kulit kayu), masuk ke dalam hutan mencari rotan, pete, ranji, buah-buahan dan madu, berburu, membuat atap dari daun kirai, membuat alat pertanian seperti golok dan kored.

Kegiatan utama masyarakat Baduy dalam menjalani hidup, pada hakekatnya terdiri dari pengelolaan lahan untuk kegiatan pertanian (ngahuma) dan pengelolaan serta pemeliharaan hutan untuk perlindungan lingkungan. Oleh karena itu tata guna lahan di Baduy dapat dibedakan menjadi : lahan pemukiman, pertanian, dan hutan tetap. Lahan pertanian adalah lahan yang digunakan untuk berladang dan berkebun, serta lahan-lahan yang diberakan. Hutan tetap adalah hutan-hutan yang dilindungi oleh adat, seperti hutan lindung (leuweung kolot/titipan), dan hutan lindungan kampung (hutan lindungan lembur) yang terletak di sekitar mata air atau gunung yang dikeramatkan, seperti hutan yang terletak di Gunung Baduy, Jatake, Cikadu, Bulangit, dan Pagelaran. Hutan tetap ini merupakan hutan yang selalu akan dipertahankan keberadaannya.

Dalam pemanfaatan lingkungannya, masyarakat Baduy sangat patuh terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku seperti : (1) dilarang merubah jalan air, misalnya membuat kolam ikan, mengatur drainase, dan membuat irigasi; pertanian padi sawah dilarang, (2) Dilarang mengubah bentuk tanah, misalnya menggali tanah untuk membuat sumur, meratakan tanah untuk pemukiman, dan mencangkul tanah untuk pertanian. Rumah masyarakat Baduy relatif sama; lantainya dari bambu (palupuh), atapnya dari daun kirai (hateup), dindingnya dari anyaman bambu (bilik), dan tiang-tiangnya dari kayu, (3) Dilarang masuk hutan titipan (leuweung titipan) untuk menebang pohon, membuka ladang atau mengambil hasil hutan lainnya. Masyarakat Baduy membagi tata guna lahannya menjadi dua fungsi utama, yakni kawasan perlindungan lingkungan (hutan lembur dan hutan titipan) dan kawasan budidaya (lahan pertanian dan pemukiman). Kawasan perlindungan lingkungan mutlak tidak bisa dialihfungsikan untuk kegiatan apa pun; (4) Dilarang menggunakan teknologi kimia, misalnya menggunakan pupuk, obat pemberantas hama penyakit, menggunakan minyak tanah, mandi menggunakan sabun, menggosok gigi menggunakan pasta, dan meracun ikan; (5) Dilarang menanam tanaman budidaya perkebunan seperti : kopi, kakao, cengkeh, kelapa sawit, dan sebagainya, dan (6) Dilarang memelihara binatang ternak kaki empat, seperti kambing, sapi dan kerbau.

Aturan dan larangan yang dianut oleh masyarakat Baduy, seakan-akan merupakan hal yang mustahil terjadi di masyarakat umum. Namun inilah kenyataan yang terjadi di komunitas Masyarakat Baduy, yang jaraknya tidak mencapai 200 km dari Ibu Kota Jakarta. Makna dari larangan-larangan tersebut bisa dirasakan oleh masyarakat umum sekarang ini, mulai dari bendungan dengan banjirnya, sawah dengan hamanya, penebangan hutan dengan ekploitasi sumberdaya alam di dalamya, pupuk dan insektisida dengan pencemarannya, kopi dan sawit dengan pembabatan hutannya, dan sebagainya. Hikmah yang perlu diambil dari perilaku Masyarakat Baduy adalah kesederhanaan dan hilangkah keserakahan, cintailah lingkungan jangan alih fungsikan alam yang ada hanya karena untuk kesenangan sesaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s